Besarnya Storage Windows Server 2016 Dukung Bisnis Berjalan Lancar

Besarnya Storage Windows Server 2016 Dukung Bisnis Berjalan Lancar

Windows Server 2016 telah menjadi pilihan terbaik untuk mendukung kebutuhan IT perusahaan. Ada banyak peningkatan performa dan fitur pada versi ini jika dibandingkan dengan versi sebelumnya. Apalagi jika disandingkan dengan Windows Server 2008/2008 R2 yang akan segera habis masa berlakunya (end of support).

Salah satu yang menjadi unggulan dari Windows Server 2016 adalah penyimpanan (storage) yang tergolong besar sehingga sangat cocok bagi perusahaan yang memiliki database kompleks. Berikut beberapa fitur storage yang dimiliki Windows Server 2016.

Storage Spaces Direct (SSD)

SSD membuat ketersediaan atau kapasitas penyimpanan pada server begitu besar. Penyimpanan ini juga dapat diskalakan menggunakan server dengan penyimpanan lokal. Dengan SSD, pengelolaan sistem penyimpanan pada software menjadi lebih mudah. SSD juga bisa diintegrasikan dengan perangkat lain, seperti SATA SSD dan NVMe.

Storage Replica

Storage Replica memungkinkan duplikasi storage-agnostic, block-level, serta sinkronisasi antara server untuk pemulihan bencana dan memulihkan failover cluster. Duplikasi ini juga memungkinkan mirroring data di situs secara konsisten sehingga memastikan tak ada data yang hilang.

Storage Quality of Service (QoS)

Pengguna Windows Server 2016 kini dapat menggunakan Storage Quality of Service (QoS) untuk memantau kinerja storage secara terpusat. QoS juga akan membantu pengguna membuat kebijakan manajemen menggunakan kluster Hyper-V dan CSV.

Dengan dukungan storage yang sangat mumpuni pada Windows Server 2016 ini, segala urusan IT perusahaan akan tertangani dengan lebih baik. Imbasnya, aktivitas bisnis pun akan berjalan lebih lancar. Windows Server 2016 juga bisa menjadi pilihan utama untuk meng-upgrade Windows Server 2008/2008 R2 yang akan segera habis masa berlakunya (end of support) pada Januari 2020 mendatang.

Langkah Migrasi Database dari SQL Server 2008 ke SQL Server 2017

Langkah-langkah Migrasi Database dari SQL Server 2008 ke SQL Server 2017

Sebagai tindak lanjut dari berakhirnya masa dukungan (end of support) SQL Server 2008/2008 R2, para pengguna bisa meng-upgrade dan memigrasi database ke SQL Server 2017.

SQL Server versi ini memiliki sejumlah fitur terbaru dan dukungan yang lebih mumpuni sehingga menjadi salah satu piilihan terbaik bagi pengguna.

Berikut langkah-langkah manual untuk mentransfer database dari SQL 2008/2008 R2 ke SQL Server 2017.

  1. Untuk memulai proses, bukalah SQL Server Management Studio menggunakan Object Explorer. Setelah itu, hubungkan ke Source Server.
  2. Selanjutnya, klik kanan pada database yang ada, lalu pilih opsi Tasks. Kemudian, pilih opsi Generate Scripts dari daftar yang diberikan.
  3. Begitu Anda memilih opsi Generate Scripts, sebuah wizard akan muncul di layar. Lalu, klik tombol Next.
  4. Pada wizard Generate and Publish Scripts, pastikan bahwa opsi Script entire database and all database objects telah dipilih. Setelah selesai, klik tombol Next.
  5. Pada wizard Set Scripting options, lakukan hal berikut:
  • Pilih Save scripts ke opsi lokasi tertentu
  • Tentukan apakah objek atau data akan dikhususkan (scripted) untuk file tunggal atau ganda. Selain itu, tentukan pula path dan encoding dari skrip yang dihasilkan
  • Selanjutnya, klik opsi Advanced.

6. Pada jendela Advanced Scripting Options, lakukan langkah berikut:

  • Tentukan Schema and Data di bawah heading Script for Server Version
  • Atur pilihan berikut menjadi True:

–  Script Logins

–  Script Full-Text Indexes

–  Script Triggers.

7. Lalu, klik tombol Next.

8. Pada step Summary dari wizard Generate and Publish Scripts, klik Next

9. Lalu, pada halaman selanjutnya, klik Finish untuk menjalankan skrip yang dihasilkan dari SQL versi yang lebih lama.

Dari langkah-langkah di atas terlihat bahwa prosedur manual untuk memigrasi atau meng-upgrade SQL Server merupakan proses yang memakan waktu. Satu kesalahan langkah saja bisa menghentikan seluruh proses migrasi.

Oleh sebab itu, untuk memudahkan proses migrasi ini, tak perlu ragu untuk segera menghubungi partner IT tepercaya Anda sehingga solusi dari berakhirnya masa dukungan SQL Server 2008/2008 R2 bisa ditemukan bersama.

Migrasi dari SQL Server 2008 ke SQL Server 2017, Apa yang Baru?

Pada Juli 2019 mendatang, Microsoft tidak akan lagi memberikan dukungan untuk SQL Server 2008 dan SQL Server 2008 R2. Dengan berakhirnya masa dukungan (end of support) ini, maka tidak akan ada lagi pembaruan untuk SQL versi tersebut.

Artinya, aplikasi dan data akan menghadapi risiko keamanan yang tinggi, mengingat serangan siber juga kian canggih dan makin sering terjadi. Tak hanya itu, server Anda juga tidak akan sesuai lagi dengan sejumlah persyaratan peraturan.

Salah satu opsi yang bisa diambil adalah memigrasi database SQL Server 2008/2008 R2 dengan versi yang lebih baru, yakni SQL Server 2017. Sebagai versi teranyar, SQL Server 2017 memiliki keamanan, performa, ketersediaan, dan inovasi yang lebih baik. Apalagi dengan tambahan dukungan cloud analytics.

Nah, sebelum beralih ke prosedur migrasi, berikut beberapa hal baru yang bisa Anda temukan di SQL Server 2017.

  1. SQL Server 2017 mendukung struktur database Graph yang memungkinkan pengguna menambahkan grafik dan node
  2. Adanya integrasi kode Phyton baru dalam database SQL Server 2017
  3. SQL Server 2017 memperkenalkan fitur keamanan baru yang dinamai CLR Strict Security
  4. Diperkenalkannya fungsi-fungsi baru, seperti STRING_AGG dan TRIM
  5. SQL Server 2017 memberikan dukungan untuk fitur hardware dan storage terbaru

Adanya manfaat tambahan memang merupakan hal yang lumrah jika Anda meng-upgrade software atau server ke versi terbaru. Namun, hal yang tak boleh Anda abaikan juga adalah fakta bahwa terus menggunakan software atau server yang habis masa dukungannya justru akan membawa petaka.

Menggunakan server yang akan end of support tentunya berisiko tinggi terhadap peretasan, pelanggaran kepatuhan, menghabiskan banyak biaya, serta menghambat transformasi digital. Oleh sebab itu, jangan biarkan hal ini mengganggu jalannya bisnis Anda. Segera migrasikan SQL Server 2008/2008 R2 sebelum habis masa dukungannya.

Hal yang Paling Disukai Perusahaan dari Windows Server 2016

Hal yang Paling Disukai Perusahaan dari Windows Server 2016

Sebagai versi paling anyar saat ini, Windows Server 2016 merupakan pilihan terbaik untuk mendukung kebutuhan IT perusahaan. Tentu saja, Windows Server 2016 memiliki berbagai peningkatan, baik dari segi keamanan, penyimpanan, maupun manajemen dibandingkan versi terdahulunya.

Terlebih jika dibandingkan dengan Windows Server 2008/2008 R2 yang akan segera habis masa dukungannya dalam waktu kurang dari satu tahun lagi. Dengan keunggulan ini, Windows Server 2016 bisa menjadi pilihan tepat untuk mengganti Windows Server 2008/2008 R2 tersebut.

Dari berbagai keunggulan yang dimiliki oleh Windows Server 2016, berikut beberapa hal yang sangat disukai oleh perusahaan.

1. Windows Server merupakan sistem operasi server dasar

Windows 2016 bukanlah sebuah fitur khusus, melainkan pembaruan dari Windows server versi sebelumnya. Oleh sebab itu, pengguna Windows server versi terdahulu hanya perlu meng-upgrade versi mereka tanpa harus mengubah sistem operasi yang ada. Dengan pembaruan ini, versi sebelumnya akan ditambal, diperbaiki, dan ditingkatkan sehingga kian memenuhi kebutuhan pengguna.

2. Hyper-Converged Infrastructure

Fitur Hyper-Converged Infrastructure (HCI) yang dikembangkan di dalam Windows Server 2016 merupakan penggabungan terintegrasi yang dapat menyediakan layanan high availability dari Windows Server.

Alih-alih memiliki dua atau tiga layanan terpisah (dan bahkan penyimpanan pihak ketiga), Microsoft telah membangun seluruh layanan ini secara terintegrasi di Windows Server 2016. HCI adalah sebuah jaringan yang menerapkan clustered servers, teknologi migrasi langsung Hyber-V, dan replikasi file Distributed File System (DFS).

3. Storage Spaces Direct

Komponen utama HCI yang dapat dipecah dan diimplementasikan sepert halnya high speed/highly available storage adalah Storage Space Direct. Seperti diketahui, pengeluaran IT untuk storage area network (SAN) tidaklah murah. Dengan Storage Space Direct, tentu perusahaan tidak perlu berinvestasi terlalu besar terkait penyimpanan.

4. Privileged Access Management (PAM) for Active Directory

Dengan tingkat keamanan yang semakin tinggi, PAM menyediakan proses administrasi yang mudah untuk mengontrol administrasi jaringan. Bagi banyak perusahaan, PAM merupakan solusi bagi kendala pihak ketiga yang terbilang mahal.

PAM memungkinkan perusahaan untuk mengisolasi penggunaan akun istimewa dari berbagai administrator perusahaan. Jadi, ketimbang memberikan akses penuh atas Domain Administrator ke lusinan pengguna, perusahaan dapat memberikan akses spesifik hanya kepada pengguna tertentu dalam jangka waktu yang dapat ditentukan pula.

5. Akurasi waktu yang lebih baik

Dengan berkembangnya teknologi komputasi awan (cloud), tingkat akurasi waktu menjadi hal yang sangat krusial. Sejumlah sektor, seperti perbankan, telekomunikasi, dan transportasi berbasis GPS juga sangat mengandalkan layanan realtime yang sangat akurat. Oleh sebab itu, Windows Server 2016 menurunkan waktu akurasinya menjadi 1 ms (miliseconds) sehingga kegagalan sistem akibat waktu tunggu yang terlampau lama bisa dihindari.

Ini Pentingnya Upgrade ke SQL Server 2017 demi Selamatkan Bisnis Anda

Ini Pentingnya Upgrade ke SQL Server 2017 demi Selamatkan Bisnis Anda

Sebagai tindak lanjut dari berakhirnya masa dukungan (end of support) SQL Server 2008/2008 R2, pengguna bisa memilih untuk meng-upgrade ke server versi teranyar, yakni SQL Server 2017. Dibandingkan pendahulunya, SQL Server 2017 memiliki keamanan, performa, ketersediaan, dan inovasi yang lebih baik dengan dukungan cloud analytics.

Tidak hanya sebagai opsi untuk menindaklanjuti berakhirnya masa dukungan SQL Server 2008/2008 R2, nyatanya SQL Server 2017 memang merupakan server terbaik untuk mendukung bisnis Anda. Berikut telah kami rangkum beberapa alasan perlunya meng-upgrade server Anda ke SQL Server 2017:

1. Fitur termutakhir

Sebagai versi terbaru, SQL Server 2017 memiliki sejumlah fitur yang sangat diunggulkan. Salah satu yang patut dilirik adalah Automatic Plan Corrrection. Fitur ini membantu mendeteksi dan memperbaiki beragam masalah stabilitas query plan.

Fitur terbaru lainnya adalah Adaptive Query Processing (AQP) yang sangat membantu dalam operasi batch mode dengan menggunakan indeks Columnstore. AQP memiliki tiga komponen, yakni Batch Mode Adaptive Memory Grant Feedback, Batch Mode Adaptive Joins, dan Interleaved Execution for Multi-Statement Table Valued Functions.

Tidak hanya menambah fitur, SQL Server 2017 juga melakukan perbaikan diagnostik dan pemecahan masalah sehingga DBA menjadi jauh lebih mudah, termasuk meningkatkan Showplan dan sejumlah DMV baru.

Ada pula peningkatan kemampuan “community-driven” pada versi ini, seperti smart differential backup, smart transaction log backup, improved backup performance untuk database kecil di server kelas atas, serta perbaikan diagnostik dan pemantauan tempdb.

2. Peningkatan pencadangan

Dalam SQL Server 2017, Microsoft berkomitmen penuh untuk melindungi pencadangan data para peggunanya. Performa untuk membuat parameter profil pengguna juga terus ditingkatkan secara dinamis. Terobosan ini membuat pencadangan lebih aman dan mudah disetel.

3. Dukungan penuh dari Microsoft

End of support bagi SQL Server berarti tak akan ada lagi dukungan dari Microsoft. Tanpa dukungan ini, SQL dengan versi lama tentu akan semakin berisiko terkena serangan cyber dan kerusakan lain.

Oleh sebab itu, dengan meng-upgrade ke versi terbaru, yakni SQL Server 2017, pengguna akan mendapat dukungan dan perlindungan dari Microsoft hingga tahun 2022 mendatang.

4. Kebijakan servis

Sejak dirilis pada 2 Oktober 2017, setidaknya sudah ada 6 Cumulative Updates pada SQL Server 2017. Microsoft telah meluncurkan layanan yang disebut “Modern Servicing Model”. Artinya, tak akan ada lagi Service Packs (Paket Layanan) tambahan atau pembaruan pada SQL Server 2017.

Sebagai gantinya, akan ada Cumulative Update bulanan pada tahun pertama. Selanjutnya, Cumulative Update akan dilakukan tiap tiga bulan selama empat tahun. Dengan rentang waktu ini, kekurangan pada SQL Server 2017 lebih cepat diperbaiki. Selain memperbaiki kekurangan atau kecacatan, dengan pembaruan ini, Microsoft juga akan merilis fungsi baru dan meningkatkan fitur lainnya dengan perfoma terbaik.

Begitu mengetahui sejumlah keunggulan ini, tentu tak ada lagi keraguan untuk segera meng-upgrade SQL Server 2008/2008 R2 Anda ke SQL Server 2017, bukan?

4 Risiko Mengintai Bisnis Anda Jika Tetap Pakai Software yang Habis Masa Dukungannya

4 Risiko Ini Mengintai Bisnis Anda Jika Tetap Pakai Software yang Habis Masa Dukungannya (End of Support)

Demi menghadapi tantangan zaman, sistem operasi komputer atau software terus berkembang dan berinovasi. Sejumlah produk terus memperbarui fiturnya sehingga lebih bisa memenuhi kebutuhan pengguna.

Oleh sebab itu, jika sudah dianggap kurang mumpuni, sebuah produk akan mengakhiri masa dukungannya (end of support) dan menggantikannya dengan produk termutakhir yang jauh lebih baik.

Lantas, bagaimana jika pengguna tetap menggunakan produk yang sudah habis masa dukungannya itu? Tentu saja, sejumlah risiko akan mengintai bisnis pengguna, di antaranya:

1. Sasaran empuk bagi hacker

Akhir dukungan (end of support) berarti akhir dari pembaruan keamanan dari produsen produk. Jadi, tak ada lagi pembaruan keamanan sehingga virus, malware, atau peretasan akan sangat mudah masuk ke sistem. Ancaman ini akan sangat mudah menyebar melalui internet dan data-data di penyimpanan pengguna yang kemudian terhubung dengan komputer.

2. Pelanggaran kepatuhan

Menggunakan software yang habis masa dukungannya tidak hanya meningkatkan risiko bagi keamanan sistem operasi pengguna, tetap juga merupakan sebuah pelanggaran kepatuhan dari regulasi yang telah ditetapkan.

3. Makan biaya

Mungkin awalnya pengguna berpikir untuk menghemat biaya sehingga tidak mengganti atau meng-upgrade software yang sudah habis masa dukungannya. Padahal, jika penggunaan terus dilakukan, keamanan software akan sangat rentan terhadap serangan. Saat serangan ini terjadi dan merusak seluruh sistem, akhirnya biaya pemulihan justru akan jauh lebih besar.

4. Menghambat transformasi digital

Sebuah penelitian dari Logicalis Global CIO Survey pada 2018 menyebutkan, sebanyak 44 persen manajer IT merasa bahwa penghambat utama transformasi bisnis mereka adalah usangnya teknologi yang dipakai. Menggunakan sistem operasi yang sudah tidak mutakhir membuat mereka tidak bisa mengadopsi teknologi transformatif, seperti layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi yang lebih besar. Dan lebih luas sebagai bent

Dengan sejumlah risiko ini, tentunya menggunakan software atau sistem operasi yang sudah habis masa dukungannya bukanlah sebuah keputusan yang tepat. Pengguna harus segera mengambil langkah antisipasi sehingga bisnis tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu Microsoft telah menginformasikan bahwa SQL Server 2008/2008 R2 dan Windows Server 2008/2008 R2 akan segera habis masa dukungannya. SQL Server 2008/2008 R2 akan berakhir pada 9 Juli 2019. Sementara itu, Windows Server 2008/2008 R2 akan berakhir pada 14 Januari 2020.

Oleh sebab itu, Microsoft kemudian merekomendasikan sejumlah langkah yang bisa dipilih pengguna untuk menggantikan kedua produk ini, misalnya dengan meng-upgrade ke versi terbaru atau memanfaatkan teknologi komputasi awan (cloud).

Masa Dukungan SQL Server dan Windows Server 2008/2008 Berakhir, Bagaimana Selanjutnya?

Masa Dukungan SQL Server dan Windows Server 2008/2008 Berakhir, Bagaimana Selanjutnya?

Hanya dalam hitungan bulan, dukungan untuk SQL Server 2008/2008 R2 dan Windows Server 2008/2008 R2 akan berakhir. Berakhirnya dukungan ini merupakan respons atas cepatnya perkembangan teknologi.

Sebagaimana diketahui, Microsoft telah mengumumkan bahwa SQL Server 2008/2008 R2 akan berakhir pada 9 Juli 2019. Sementara itu, Windows Server 2008/2008 R2 akan berakhir pada 14 Januari 2020.

Akhir dukungan (end of support) ini juga berarti akhir dari pembaruan keamanan. Tanpa pembaruan, aplikasi dan data akan menghadapi risiko keamanan yang tinggi, mengingat serangan siber juga kian canggih dan makin sering terjadi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, beberapa opsi berikut bisa dipilih.

1. Upgrade ke versi terbaru

Agar aktivitas tetap berjalan sebagaimana mestinya, pengguna bisa meng-upgrade SQL Server 2008/2008 R2 dengan server termutakhir, yakni SQL Server 2017. Dibandingkan pendahulunya, SQL Server 2017 memiliki keamanan, performa, ketersediaan, dan inovasi yang lebih baik dengan dukungan cloud analytics.

Sementara itu, pengguna Windows Server 2008/2008 R2 dapat upgrade ke Windows Server 2016. Tentu saja, versi terbaru ini memiliki berbagai peningkatan, baik dari segi keamanan, penyimpanan, maupun manajemen.

2. Migrasi ke Cloud

End of support merupakan waktu yang tepat untuk mentransformasikan infrastruktur IT ke teknologi komputasi awan (cloud), misalnya Azure. Pengguna dapat rehost SQL Server 2008/2008 R2 dan Windows Server 2008/2008 R2 ke Azure dengan begitu mudah.

Opsi ini sangat membantu pengguna untuk meningkatkan dan mengadopsi teknologi yang lebih inovatif dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi dan biaya infrastuktur yang lebih terjangkau. Tak hanya itu, pengguna juga dapat memperpanjang pembaruan keamanan hingga tiga tahun tanpa dikenakan biaya.

Kedua opsi ini dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Hanya ada sedikit waktu untuk mempertimbangkannya sebelum masa dukungan untuk SQL Server 2008/2008 R2 dan Windows Server 2008/2008 R2 benar-benar berakhir.

Segera tentukan pilihan dan kami siap membantu menemukan solusi terbaik untuk bisnis Anda.

4 Tren Baru dalam Manajemen Sistem Azure Cloud Hybrid

4 Tren Baru dalam Manajemen Sistem Azure Cloud Hybrid

Ketika perusahaan Anda sudah melakukan migrasi sistem ke cloud hybrid seperti Azure, bukan berarti pekerjaan selesai. Manajemen yang baik sangat penting untuk memastikan sistem tersebut berjalan dengan baik serta mampu mendukung operasi perusahaan. Sama seperti teknologi digital lainnya, sistem komputasi awan juga memiliki tren pengelolaan.

Pastikan perusahaan Anda tidak ketinggalan dalam hal pengelolaan teknologi pendukung operasi bisnis. Berikut empat tren manajemen Azure Cloud Hybrid yang harus diterapkan setiap perusahaan.

Tren Sistem Cadangan Data

Sistem cadangan data (backup) sangat penting untuk memastikan proses bisnis berjalan dengan baik. Tren baru manajemen Azure Cloud Hybrid berfokus pada dua prinsip, yaitu kemudahan serta efisiensi biaya tanpa mengurangi kinerja. Anda bisa melakukan hal-hal seperti:

  • Melakukan backup langsung ke sistem cloud. Hal ini akan mengurangi kompleksitas sistem penyimpanan data serta mengurangi biaya.
  • Memisahkan lokasi backup sesuai tingkat kepentingannya. Backup untuk operasi bisnis jangka pendek bisa disimpan di tempat (on-premise) tetapi yang untuk operasi jangka panjang bisa dipindahkan ke cloud.
  • Lakukan enkripsi pada setiap data yang di-backup di cloud, lalu gunakan pilihan penyimpanan hingga 99 tahun.

Tren Pemulihan Data

Pemulihan data setelah kejadian luar biasa (disaster recovery) harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perusahaan bisa kembali berbisnis, tetapi dengan risiko kehilangan sesedikit mungkin. Akibatnya, biaya yang harus Anda keluarkan untuk proses ini menjadi tidak sedikit.

Azure kini menawarkan Azure Site Recovery, yaitu solusi pemulihan data langsung lewat cloud hybrid. Solusi ini cocok untuk perusahaan yang sangat bergantung pada proses otomatisasi, misalnya perbankan atau institusi keuangan.

Tren Pemanfaatan OMS

Berbagai perusahaan masih memandang Azure serta Operations Management Suite (OMS) sebagai tempat penyimpanan data, tetapi OMS memiliki lebih banyak fungsi. OMS menawarkan fungsi yang diperlukan untuk proses manajemen data serta otomatisasi berbagai fungsi. Dengan menggunakan OMS, Anda bisa melakukan berbagai tugas manajemen data secara mudah, langsung dari cloud.

OMS membantu Anda untuk menciptakan sistem pencarian data berdasarkan kata kunci atau fitur spesifik, menghidupkan sistem pemberitahuan, serta melakukan visualisasi data. Sistem ini bahkan mampu berevolusi dengan cukup cepat, dan menyesuaikan kinerjanya dengan pengembangan sistem.

Tren Remote Desktop

Remote desktop semakin menjadi kebutuhan, terutama pada era di mana berbagai proyek bisnis bisa dikerjakan oleh tim di tempat yang berbeda. Microsoft Azure memberi pilihan lebih agar Anda tidak perlu tergantung pada komputer dan laptop saat mengerjakan tugas tim. Memanfaatkan fitur remote desktop juga mendukung efisiensi waktu bagi kaum pekerja di kota besar.

Tren manajemen sistem komputasi awan ini bisa membantu Anda memanfaatkan Azure Cloud Hybrid secara lebih maksimal, agar perusahaan lebih mampu menghadapi persaingan sekaligus meningkatkan pilihan layanan.

Solusi dari Tantangan Umum dalam Migrasi ke Cloud Hybrid

5 Tantangan Umum dalam Migrasi ke Cloud Hybrid dan Solusinya

Melakukan migrasi sistem adalah strategi yang memakan waktu dan biaya, apalagi jika perusahaan Anda bermigrasi dari sistem data konvensional ke cloud hybrid. Walau produk komputasi awan seperti Microsoft Azure sudah banyak diadopsi oleh perusahaan lokal, proses migrasi ke sistem ini masih menjadi momok, karena ada banyak hambatan yang harus Anda uraikan.

Untungnya, ada berbagai cara mudah untuk mengatasi tantangan umum proses migrasi dari sistem lama ke cloud. Berikut lima ilustrasi problem umum serta solusinya.

Downtime yang Terlalu Panjang

Migrasi sistem besar-besaran akan menyebabkan downtime yang cukup panjang, sehingga mengganggu kinerja perusahaan. Perusahaan sebaiknya memetakan waktu downtime untuk setiap aspek migrasi, lalu merencanakan langkah-langkah pemindahan sistem berdasarkan peta yang telah dibuat. Anda tidak bisa menghindari downtime, tetapi perencanaan akan membantu perusahaan untuk tetap beroperasi dengan risiko minimal.

Adanya Ketergantungan antar Aplikasi

Dalam sebuah sistem atau basis data perusahaan, berbagai aplikasi tidak bekerja sendiri, tetapi memiliki fungsi yang saling bergantung. Jika Anda memindahkan sistem ke cloud hybrid, beberapa fungsi aplikasi mungkin akan terganggu karena ketergantungan sistem mereka menjadi kacau. Pastikan untuk menganalisis fungsi dan cara kerja setiap aplikasi penting, agar Anda bisa memindahkan setiap aplikasi ke sistem baru tanpa mengganggu kinerja.

Aplikasi yang Tidak Kompatibel

Masalah umum lain terkait aplikasi bisnis serta migrasi ke Azure adalah aplikasi yang tidak kompatibel dengan sistem baru. Ketika aplikasi sudah dipindahkan dan ternyata tidak berjalan dengan baik, Anda akan kehilangan banyak waktu dan uang ekstra. Perusahaan harus memastikan bahwa aplikasi bisnis utama kompatibel dengan Azure. Anda bisa menggunakan fasilitas Azure test environment untuk memeriksa kompatibilitas aplikasi. Solusi ini akan menunjukkan apakah aplikasi bisnis akan bisa berjalan di Azure atau tidak.

Risiko Keamanan saat Migrasi Sistem

Migrasi sistem yang berlangsung dalam waktu lama menghadirkan risiko keamanan pada sistem data perusahaan. Hal ini karena yang dipindahkan bukan hanya infrastruktur, tetapi juga perangkat lunak, program, dan aplikasi. Solusi umumnya adalah penggunaan protokol keamanan pada tingkat aplikasi, jaringan virtual privat (VPN), serta sistem enkripsi end-to-end.

Kejadian Luar Biasa

Ketika melakukan migrasi sistem, hal-hal seperti error atau kehilangan data bisa saja terjadi. Untuk mengatasinya, perusahaan harus mempertimbangkan setiap skenario bencana yang bisa terjadi saat migrasi sistem, dan menyiapkan rencana cadangan.

Ketika menyiapkan rencana migrasi sistem, terutama jika sistem tersebut sangat penting untuk operasi vital perusahaan, pastikan Anda dan tim membuat rencana pencegahan berdasarkan skenario terburuk. Penambahan lapisan keamanan serta sistem data cadangan akan bermanfaat untuk menangani setiap masalah yang mungkin timbul saat proses migrasi ke could hybrid.

Studi Kasus Manfaat Enterprise Cloud bagi Perusahaan

Studi Kasus Manfaat Enterprise Cloud bagi Perusahaan

Penggunaan komputasi awan semakin banyak dipilih perusahaan untuk menyediakan infrastruktur TI yang andal. Sebab, cloud mampu menjadi solusi untuk melakukan peningkatan sistem TI tanpa harus dibebani biaya tinggi.

Lebih dari itu, tingkat keamanan dengan menggunakan cloud computing juga lebih baik. Back-up data, me-recover data maupun enkripsi bisa disediakan oleh cloud enterprise sehingga menjamin keamanan data Anda.

Yang jauh lebih penting, muaranya berdampak pada pengalaman pengguna yang lebih baik. Website dan aplikasi dapat diakses oleh pengguna dengan lebih lancar.

Tokopedia

Banyak perusahaan sudah merasakan manfaat penggunaan enterprise cloud. Salah satunya adalah Tokopedia. Marketplace terbesar di Indonesia ini menggunakan platform enterprise cloud Nutanix untuk kemudahan manajemen infrastruktur TI serta kemampuan untuk melakukan skalabilitas secara cepat.

Dengan lebih dari 2 juta penjual dan 60 juta dolar transaksi yang dihasilkan setiap bulan, Tokopedia membutuhkan sistem TI yang hebat untuk memenuhi kecepatan berekspansi. Semula, Tokpedia menggunakan sejumlah sistem berbeda untuk menjalankan aplikasi inti. Dengan semakin bertumbuhnya pasar Tokopedia, marketplace ini perlu mengkonsolidasikan infrastruktur TI agar semua sistem dapat berjalan lancar.

Menggunakan Nutanix sejak Juli 2016, masalah komputasi, penyimpanan dan jaringan yang sebelumnya kerap dihadapi Tokopedia menjadi teratasi. Tokopedia menggunakan virtual desktop infrastrukture Nutanix dan AHV hypervisor Nutanix untuk menjalankan aplikasi inti. Dengan proses yang mudah, proses migrasi itu hanya memerlukan waktu tiga hari.

Manfaat lainnya dirasakan dari berkurangnya jumlah server yang digunakan. Sebelumnya Tokopedia menggunakan 25 server dan kini cukup dengan dua server Nutanix saja. Konsumsi daya pun menjadi lima kali lebih hemat.

Infrastruktur TI yang stabil memang menjadi kebutuhan bagi Tokopedia yang memiliki banyak pelanggan. Solusi enterprise cloud Nutanix mampu memberikan dukungan infrastruktur sehingga website dan aplikasi Tokopedia bisa berjalan lancar tanpa gangguan.

Xiaomi

Manfaat serupa juga dirasakan Xiaomi. Perusahaan asal Tiongkok ini memerlukan ekspansi ekosistem TI yang cepat. Sebelumnya Xiaomi menggunakan infrastruktur TI tradisional tiga lapis yang terdiri dari VMware Esi 5.5 dan penyimpanan SAN. Meningkatnya jumlah pengguna dan makin kompleksnya sistem menyebabkan beban berlebih pada sistem penyimpan backend dan memengaruhi infrastruktur TI keseluruhan.

Oleh karena itu, Xiaomi memutuskan menggunakan arsitektur infrastruktur TI baru untuk mengatasi masalah kelambatan akses. Sebagai perusahaan teknologi, Xiaomi paham betul pentingnya teknologi untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Kemudian Xiaomi menggunakan teknologi hyper konvergen Nutanix.

Dengan mengadopsi platform enterprise cloud Nutanix, Xiaomi merasakan kestabilan server, keamanan data terjamin, maintenance minim, dan jarang down. Singkatnya, penggunaan enterprise cloud Nutanix menghasilkan kinerja, fungsi, dan stabilitas seperti yang diinginkan Xiaomi.

Yahoo!

Pengalaman lainnya juga dirasakan oleh Yahoo Jepang. Perusahaan ini menggunakan Nutanix enterprise cloud dan merasakan peningkatan kinerja yang maksimal dan stabil. Selain itu, dengan menggunakan Nutanix Prisim, manajemen server dapat dikelola dengan komprehensif. Dengan cara pengaturan yang sederhana, sistem back up yang terjamin, membuat proses bisnis Yahoo Jepang pun bisa berlangsung lebih lancar.

Demikianlah sejumlah studi kasus penggunaan enterprise cloud yang dirasakan oleh banyak perusahaan di dunia. Anda pun bisa mencobanya untuk meningkatkan kinerja bisnis Anda.