Bagaimana Memastikan Keamanan Siber di Tengah Tren Hybrid Working?

Serangan siber menjadi momok yang membayangi perusahaan di tengah tren penerapan hybrid working. Sebuah studi yang dilakukan Microsoft menemukan bahwa peretas melakukan 579 kali serangan per detik atau sama dengan 50 juta percobaan serangan per hari. Hal itu disampaikan CVP Microsoft Security, Compliance & Identity, Vasu Jakkal dalam acara bertajuk “Keamanan Cyber di Era Kerja Hybrid”.

Studi itu menemukan bahwa salah satu pintu masuk serangan siber di Asia adalah email. Sebagian besar insiden siber berawal dari seseorang yang mengeklik email. Para peretas kerap memanfaatkan topik-topik hangat, seperti Covid-19. Pengguna biasanya tergoda untuk membuka dan mengeklik tautan yang menggunakan subjek “bantuan sosial” atau “vaksin gratis”.

Untuk memastikan keamanan siber selama hybrid working, Vasu menyarankan perusahaan untuk melakukan tiga langkah proteksi.

Pertama, terapkan zero trust. Jangan mudah percaya dengan tautan yang dikirimkan ke email Anda. Pastikan kebenaran dari sumber yang terpercaya.

Kedua, bekali sumber daya manusia (SDM) dengan pelatihan mengenai cyber security. Keamanan siber merupakan tanggung jawab seluruh karyawan, bukan hanya teknisi bagian IT.

Ketiga, manfaatkan layanan komputasi awan (cloud) yang memiliki kemampuan security lebih baik pada sistem on premise. Salah satunya seperti yang dihadirkan Microsoft 365.

Untuk diketahui, proteksi keamaan Microsoft Office 365 pada data pribadi pengguna dilakukan selama 24 jam. Lewat fitur ini, Office 365 mampu memperlihatkan lokasi dari data pengguna secara spesifik.

Kemudian, Microsoft 365 juga memiliki Lockbox yang memperketat proses keamanan dan membatasi akses pada siapa pun yang berusaha mengakses data pribadi pengguna. Untuk menunjang proteksi ini, server hanya mengoperasikan laman yang masuk daftar tepercaya untuk mengurangi risiko dari serangan malware berbahaya. Fitur kini juga mengawasi ancaman tertentu dengan melakukan antisipasi terhadap akses yang dianggap mencurigakan atau berbahaya.

Selain itu, sebagai proteksi utama Office 365, Microsoft 365 juga memiliki enkripsi dalam ruang penyimpanan. Ketika enkripsi transit dengan SSL/TLS, data pengguna akan tetap terjaga selama ditransmisi ke pihak Microsoft. Kemudian, ada pula pengaturan untuk memantau keamanan dan integritas data. Microsoft 365 juga memiliki Exchange Protection yang merupakan proteksi pada email pengguna.

Selanjutnya, Micorosoft Office 365 memungkinkan pengguna untuk mengirimkan email terenkripsi kepada siapa pun. Ada pula yang disebut sebagai Rights Management. Fitur ini dapat digabungkan dengan enkripsi pesan sehingga dapat mencegah kehilangan data. Bagi pengguna yang ingin mengakses email berbasis sertifikat, ada S/MIME yang akan menjaga keamanan data.

Sementara itu, sebagai antisipasi akses dokumen yang tidak memiliki kredensial, Microsoft 365 menyediakan Azure Rights Management.

Seluruh perlindungan tersebut semakin lengkap dengan multi-factor authentication melalui ponsel atau tablet pengguna. Kontrol admin ini pun dapat mencegah hilangnya informasi serta data sensitif ke pengguna lain. Pengaturan aplikasi Office 365 di ponsel pun akan selalu terjaga melalui fitur ini. Terakhir, ada proteksi tambahan berupa antivirus serta antispam yang dapat melindungi privasi dan data pengguna.

Deretan Fitur Microsoft 365 yang Jamin Keamanan Data Selama Bekerja Hybrid

Situasi pandemi Covid-19 membuat sebagian besar kantor harus mengadopsi sistem bekerja hybrid. Namun, kondisi tersebut membuat perusahaan khawatir terhadap keamanan data. Pasalnya, setiap karyawan akan memanfaatkan layanan komputasi awan (cloud computing) untuk bekerja, saling terhubung, dan berkolaborasi.

Meski kerap dipandang lebih rentan terhadap kebocoran data, cloud computing justru bisa memberikan perlindungan yang lebih aman pada layanan on premises. Hal inilah yang dihadirkan Microsoft Office 365. Demi mengamankan data pengguna, Microsoft Office 365 menyematkan berbagai fitur pada layanannya.  

Fitur pertama adalah Office 365 Secure Score yang merupakan sebuah sistem analisis keamanan baru yang memberikan skor untuk konfigurasi keamanan pada layanan Office 365 pengguna.

Kemudian, hadir pula Office 365 Threat Intelligence Private Preview. Layanan yang memanfaatkan berjuta data points dari Microsoft Intelligent Security Graph itu menyediakan informasi mengenai lanskap ancaman global. Dengan demikian, pengguna akan lebih waspada terhadap ancaman cyber.

Selain itu, ada juga Office 365 Advanced Data Governance Preview. Memanfaatkan machine learning, fitur ini dapat membantu menemukan dan memelihara data penting pengguna sambil mengeliminasi redudansi data yang dapat menimbulkan resiko keamanan ke depannya. 

Dengan jaminan keamanan tersebut, Microsoft Office 365 dapat menjadi pilihan terbaik bagi perusahaan, khsuusnya small medium business (SMB) atau sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Tak hanya itu, platform digital itu juga dapat mendorong pertumbuhan signifikan bagi SMB. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) memaparkan bahwa hanya SMB yang telah terhubung dengan platform digital yang mampu mengalami pertumbuhan selama pandemi. Lebih spesifik lagi, pertumbuhan tersebut mencapai 26%.

Pengaplikasian hybrid channel diklaim mampu meningkatkan penjualan yang signifikan. Berdasarkan laporan Digital SME Confidence Index 2021 yang dirilis KoinWorks, sebanyak 48% pelaku SMB lebih memilih mengadopsi kanal hybrid untuk bertahan dan membuka peluang baru. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan penjualan sebesar 7% atau rata-rata 44% pada SMB yang menjalankan bisnis secara hybrid.

Hybrid Cloud, Solusi Infrastruktur IT Berbasis Komputasi Awan

Implementasi teknologi komputasi awan atau cloud computing diyakini sebagai salah satu faktor penting dalam percepatan transformasi digital di era industri 4.0. Pasalnya, keberadaan teknologi cloud dapat mendukung penciptaan ekosistem untuk melahirkan inovasi baru. Dengan cloud, data terintegrasi secara lebih mudah. Data yang dihasilkan pun dapat memberikan insight yang bervariasi. 

Selain itu, cloud bisa mendukung proses kerja menjadi lebih fleksibel, efektif, dan efisien. Meski begitu, sejumlah pelaku industri masih ragu untuk beralih dari pusat penyimpanan data berbasis on-premise ke cloud. Salah satu penyebabnya adalah infrastruktur on-premise yang masih berfungsi dengan baik. 

Untuk diketahui, on-premise adalah private cloud yang diadopsi suatu perusahaan secara mandiri, mulai dari infrastruktur hingga software. Karena hal ini, perusahaan pun cenderung menimbang-nimbang saat hendak beralih ke layanan public cloud. Sebab, mereka telah menggelontorkan dana investasi untuk keperluan tersebut. 

Selain itu, keraguan berikutnya terletak pada data dan aplikasi infrastruktur on-premise yang terlalu banyak. Proses migrasi data ke cloud pun dinilai memakan waktu lama sehingga menghambat kegiatan operasional. Kemudian, adanya sejumlah kebijakan yang mengharuskan data tertentu disimpan dan dikelola pada infrastruktur on-premise juga kerap menjadi keraguan. 

Sebagai contoh di sektor perbankan. Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/15/PBI/2007 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum, mengamanatkan sektor perbankan untuk menyimpan data penting dan sensitif di layanan on-premise dalam negeri. 

Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan atau organisasi bisa menggunakan layanan hybrid cloud, seperti dari perusahaan teknologi, Microsoft. Hybrid cloud merupakan ekosistem komputasi yang menggabungkan infrastruktur on-premise (private cloud) dengan public cloud. Dengan hybrid cloud, data ataupun aplikasi dapat beroperasi secara bersamaan pada beberapa cloud berbeda. 

Tak hanya itu, hybrid cloud juga memungkinkan konfigurasi multicloud. Dengan teknologi ini, suatu perusahaan atau organisasi dapat menggunakan lebih dari satu public cloud, di samping infrastruktur on-premise yang dimiliki. Singkatnya, hybrid cloud adalah dua atau lebih layanan cloud computing dari entitas berbeda, yakni private cloud dan public cloud. Keduanya tergabung menjadi satu untuk menghadirkan beragam manfaat untuk organisasi atau perusahaan.

Pada sejumlah industri, seperti perbankan, keuangan, dan kesehatan, penggunaan cloud dengan konsep hybrid cloud bisa jadi merupakan langkah yang tepat. Pasalnya, industri tersebut memiliki data-data yang bersifat sensitif. Dengan mengadopsi hybrid cloud, organisasi-organisasi tersebut memiliki fleksibilitas untuk menyimpan sebagian data mereka di on-premise dan sebagian lainnya di public cloud

Organisasi pun dapat memperoleh manfaat cloud sambil tetap memenuhi aturan industri yang berlaku. Bank asal Kanada, Royal Bank of Canada (RBC), misalnya, menggunakan Azure Arc-enabled data services untuk memanfaatkan layanan data cloud-native Microsoft Azure ke on-premise data center mereka. Teknologi tersebut memungkinkan RBC untuk mendapatkan layanan managed database yang selalu up-to-date untuk memodernisasi data estate mereka yang besar. 

Pada dasarnya, hybrid cloud dapat diimplementasikan dalam beberapa cara. Pertama, penyedia cloud menyiapkan dua layanan sekaligus, yaitu private dan public cloud, sebagai layanan yang terintegrasi. Kedua, organisasi dapat mengelola private cloud mereka sendiri sekaligus berlangganan layanan public cloud. Kemudian, layanan public cloud diintegrasikan ke dalam infrastruktur mereka. 

Hybrid CloudAzure Stack HCI dan Azure Arc Microsoft sendiri mengawali bisnis hybrid cloud dari layanan on-premise. Berbekal pengalaman tersebut, Microsoft memahami kebutuhan organisasi yang masih ingin menggunakan layanan on-premise, tetapi dengan keunggulan public cloud. Oleh karena itu, Microsoft menghadirkan hybrid cloud berteknologi Azure Stack HCI dan Azure Arc untuk mengakomodasi kebutuhan industri tersebut. 

Teknologi yang diusung Microsoft ini memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah memiliki kontinum lengkap untuk mendukung berbagai skenario implementasi Hybrid Cloud, mulai dari on-premise, multi-cloud, edge, hingga disconnected scenarios dengan single security model. Selain itu, teknologi ini compatible dengan berbagai macam perangkat keras yang merupakan bagian dari ekosistem Microsoft. 

Dengan kata lain, Microsoft memastikan pengguna memegang kendali atas data mereka ketika data mereka disimpan di public cloud. Melalui layanan hybrid cloud ini, Microsoft mendukung berbagai industri untuk berinovasi di mana saja, baik di Microsoft Azure public cloud maupun di infrastruktur on-premise. Dengan begitu, transformasi digital di era industri 4.0 bisa terakselerasi.  

Informasi lebih lanjut tentang hybrid cloud Microsoft, dapat Anda temukan pada tombol berikut atau menghubungi telemarketing kami di nomor 021-7201419.

Hybrid Working Jadi Tren, Berikut Empat Manfaatnya

Bekerja dengan konsep hibrida (hybrid working) menjadi tren di era kenormalan baru atau new normal. Pasalnya, bekerja dengan konsep tersebut dinilai lebih menguntungkan, baik bagi perusahaan maupun karyawan. 

Untuk diketahui, hybrid working adalah kombinasi antara bekerja di kantor atau work from office (WFO) dan bekerja di mana saja, termasuk dari rumah. Dengan menerapkan konsep tersebut, perusahaan memberikan keleluasaan kepada karyawan untuk menerapkan sistem kerja yang dinilai paling efektif. 

Bagi karyawan, kerja dengan konsep hybrid memberi banyak keuntungan. Bahkan, memberi kesempatan pada karyawan untuk berkarya dan berekspresi tanpa terbatas ruang dan waktu. 

Pertama, meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Hasil studi Owl Labs yang dilansir Forbes, Jumat (4/2/2022), menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja secara jarak jauh atau remote dan hibrida merasa 22 persen lebih bahagia ketimbang mereka yang bekerja di kantor. Survei tersebut juga mengungkap bahwa karyawan yang bekerja secara hybrid memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Mereka juga lebih fokus dan produktif daripada bekerja di kantor

Kedua, hybrid working juga berdampak terhadap kesehatan mental karyawan. Ketika pekerja telah terbiasa dengan sistem kerja hybrid sejak awal pandemi Covid-19, karyawan kembali mendapatkan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. 

Penelitian Ergotron bertajuk The Envolving Office: Empower to Work Vibrantly in 2022 yang melibatkan 1.000 pekerja penuh waktu menyebutkan, 56 persen responden mengaku bahwa kesehatan mental serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi lebih baik setelah bekerja secara hibrida. 

Dengan bekerja secara hybrid, mereka mengaku dapat melakukan aktivitas fisik secara intensif daripada saat bekerja penuh waktu di kantor. Itu artinya, karyawan memiliki waktu luang lebih banyak sehingga dapat menjaga kesehatan fisiknya. 

Ketiga, karyawan kini tak perlu lagi bepergian serta menghabiskan waktu di jalan menuju kantor. Alhasil, mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak dan dapat digunakan untuk melakukan aktivitas lain selain bekerja. Mereka dapat memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan lain, seperti berolahraga, bercengkerama dengan keluarga, menjalani hobi, atau mengikuti pelatihan (workshop). 

Keempat, fleksibilitas yang ditawarkan sistem kerja hybrid dinilai dapat meningkatkan produktivitas individu ketimbang WFO dari pagi hingga sore selama hari kerja. Dengan sistem ini, karyawan dapat menentukan sendiri tempat kerja yang diinginkan, baik dari rumah maupun tempat-tempat lain yang membuat nyaman. 

Peningkatan produktivitas tersebut disebabkan beberapa hal. Salah satunya, tekanan pekerjaan yang cenderung berkurang selama bekerja secara hybrid. Selain itu, hubungan mikro antarkaryawan ketika menjalankan hybrid working juga dapat menjadi salah satu pendongkrak produktivitas. Pasalnya, karyawan masih bisa bertemu secara tatap muka dalam satu waktu untuk mengobrol dan mendiskusikan ide-ide baru. Hal ini dapat meningkatkan kolaborasi dan kualitas hubungan kerja antarkaryawan. Dengan begitu, kualitas kehidupan pekerja dapat lebih baik dan berpengaruh terhadap peningkatan performa kerja. 

Sebagai informasi, sistem bekerja jarak jauh yang diterapkan di era kenormalan baru dapat berjalan lancar karena pemanfaatan sistem yang memungkinkan pekerja dapat berkolaborasi, misalnya Microsoft Teams.

Cara Kerja Hybrid Lebih Efisien dengan Modern Workplace Berfitur Menarik

Bekerja secara hybrid merupakan alternatif yang dilakukan perusahaan selama beradaptasi pada era kenormalan baru. Dengan metode tersebut, perusahaan tidak perlu menyediakan ruang kerja yang besar bagi para karyawan. Pasalnya, para karyawan tidak perlu datang ke kantor dan bekerja dari balik meja kerja. Mereka dapat bekerja dari mana saja tanpa perlu berada di satu ruangan kerja seharian.

Begitu pula ketika menghadiri meeting. Para karyawan tidak perlu menghabiskan waktu di jalan menuju lokasi meeting. Meeting kini dapat dilakukan dari depan kamera atau laptop melalui video conference

Meski awalnya merupakan bentuk adaptasi dengan situasi pandemi, rupanya para pekerja menginginkan cara kerja hybrid tetap dilanjutkan ketika pandemi nanti berakhir. Selama satu tahun bekerja secara daring, produktivitas dinilai tetap sama, bahkan lebih tinggi bagi banyak karyawan. 

Oleh karena itu, para pemimpin perusahaan sebaiknya menyeimbangkan bekerja secara hybrid, baik secara tatap muka atau virtual, dengan lebih menyenangkan. Penggunaan teknologi yang tepat dapat membantu terciptanya kolaborasi sesama tim. Bahkan, dengan menggunakan platform Microsoft Teams, para karyawan dapat bekerja secara bersama dalam satu waktu dan satu platform. 

Tidak sedikit orang mengira Microsoft Teams merupakan aplikasi video conferencing semata. Padahal, Microsoft Teams menghadirkan lebih banyak solusi untuk berinteraksi dan berkolaborasi secara daring. 

Microsoft Teams memiliki berbagai fitur komunikasi yang terintegrasi dalam satu platform. Pengguna dapat melakukan aktivitas chatting dan mengirim pesan singkat dengan emoji atau graphics interchange format (GIF). Mereka juga dapat menelepon ke sesama pengguna Microsoft Teams atau nomor telepon, melakukan video call yang dilengkapi dengan berbagai virtual background, emoji reaksi, fitur share screen, serta menggunakan whiteboard untuk meeting atau training

Untuk pertemuan atau meeting yang melibatkan banyak orang, Microsoft Teams dinilai sebagai pilihan yang tepat. Sebab, platform ini dapat menyatukan dan membuka ruang interaksi hingga 1.000 orang dalam satu ruang meeting virtual yang sama. Sementara untuk acara webinar atau konferensi, perusahaan dapat menggunakan Microsoft Teams versi Live yang bisa diikuti hingga 10.000 orang. 

Microsoft Teams juga memungkinkan pengguna berbagi dan mengerjakan dokumen secara bersamaan. Hal ini akan memudahkan pengguna karena tidak perlu berganti layar saat bekerja. Bahkan, kolaborasi tersebut juga membantu setiap pengguna yang memiliki akses terhadap dokumen untuk membaca atau mengedit dokumen yang sama. Pengguna juga dapat mengelola dokumen secara rapi di fitur “Files”. Dengan demikian, pengguna tidak kesulitan mencari lokasi dokumen versi terakhir yang dimiliki. 

Untuk memaksimalkan metode kerja secara hybrid, Microsoft Teams dapat terintegrasi dengan berbagai aplikasi internal perusahaan dan pihak ketiga yang dapat diunduh secara gratis. Salah satunya adalah aplikasi Approvals pada Microsoft Teams. Approvals di Microsoft Teams merupakan hub untuk mengoordinasikan approval pekerjaan, baik itu proposal, dokumen kesepakatan dengan pihak eksternal, maupun formulir internal. 

Seperti diketahui, mendapatkan approval atau persetujuan dari atasan atau klien menjadi proses kerja yang memakan waktu. Dengan aplikasi tersebut, pengguna cukup memilih “New Approval Request”, menambahkan detail, lalu mengirimkan ke pihak yang memberikan approval. Kemudian, persetujuan dapat diberikan langsung di aplikasi Approvals Microsoft Teams.  

Dengan memaksimalkan fungsi-fungsi Microsoft Teams tersebut, para karyawan dan pemimpin perusahaan dapat bekerja lebih cepat dan efisien. Berkolaborasi dan berinteraksi dengan tim pun menjadi hal yang menyenangkan meski dilakukan secara virtual.

Hindari 5 Kesalahan Ini Saat Melakukan Pemasaran Digital

Pandemi Covid-19 memberi dampak besar pada perekonomian dunia. Meski demikian, roda perekonomian yang sempat berhenti di masa awal pandemi kini perlahan mulai berputar kembali. Untuk tetap bertahan selama pandemi Covid-19, banyak pengusaha yang mulai memanfaatkan teknologi digital. Memasarkan produk melalui platform digital menjadi cara tepat untuk tetap mendapatkan keuntungan. 

Namun, transformasi digital yang dilakukan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak pengusaha yang salah langkah karena tidak memiliki pemahaman yang dalam mengenai digital marketing. 

Setidaknya ada lima kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pemasar digital atau pemilik bisnis yang baru terjun ke dunia digital. 

Kesalahan pertama adalah salah pengertian. Banyak orang berpikir bahwa posting produk di media sosial, seperti Instagram, merupakan pemasaran digital. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Namun, jika pengikut media sosial akun tersebut masih sedikit, jangkauan komunikasi masih terbatas. Dengan demikian, diperlukan iklan berbayar untuk menjangkau konsumen lebih luas lagi. 

Kesalahan berikutnya adalah tidak memiliki perencanaan media. Jangan berharap bisa mencapai target dalam sebuah kampanye iklan tanpa memiliki perencanaan sebelumnya. Perencanaan media meliputi kampanye iklan yang dilakukan, jenis konten, sasaran audiens, media yang digunakan, waktu penerbitan iklan, dan indikator yang diperlukan untuk melihat efektifitas iklan yang digunakan. Biaya yang digunakan untuk beriklan juga termasuk dalam perencanaan. 

Salah satu pendekatan perencanaan pemasaran digital yang mudah dilakukan tetapi powerful adalah Diamond Model (Dianta Hasri, 2021). Jadi, buatlah sebuah perencanaan yang sederhana, tetapi mencakup aspek-aspek yang sudah disebutkan. Hal tersebut bertujuan agar Anda dapat maksimal dalam menggunakan bujet iklan. 

Kesalahan ketiga adalah berekspektasi instan. Banyak pemasar pemula berekspektasi tinggi terhadap setiap iklan digital yang baru dilakukan. Biasanya, mereka berharap langsung mendapatkan penjualan yang meningkat drastis, konsumen bertambah, atau terjadi re-purchasing dengan intensitas tinggi. Mengharapkan hal tersebut memang tidak ada salahnya. Namun, yang perlu diingat, konsep dari beriklan adalah berkomunikasi untuk memengaruhi. 

Agar konsumen terpengaruh dan akhirnya membeli produk, dibutuhkan waktu dan tahapan-tahapan. Pasalnya, konsumen digital sudah jeli melihat dan membandingkan satu produk dengan produk lain. Oleh karena itu, Dianta menyarankan pemasar pemula menggunakan konsep funnel marketing atau pendekatan awareness, interest, desire, action (AIDA) dalam meningkatkan efektivitas iklan. 

Kesalahan keempat adalah bergantung pada media sosial. Dengan perencanaan dan pengetahuan yang sedikit terkait pemasaran digital, biasanya pemasar hanya bergantung pada iklan di media sosial, seperti Instagram dan Facebook. Padahal, saat ini tersedia berbagai jenis media digital yang bisa dimanfaatkan, seperti email marketing, location based messaging, dan bekerja sama dengan influencer. Anda pun dapat mengenali dan memilih media digital yang tepat untuk melengkapi strategi digital produk yang dipasarkan. 

Kesalahan terakhir adalah tidak melakukan testing. Satu hal penting sebelum beriklan adalah melakukan testing. Secara teknis, proses ini dikenal dengan istilah A/B testing. Para pemasar dapat mencoba melemparkan dua buah iklan atau lebih dengan pesan yang sama tetapi konten atau desain yang digunakan berbeda. Hal ini bertujuan untuk melihat iklan mana yang menghasilkan lebih banyak reach, engagement, atau konversi. Setelah menemukan konsep iklan yang pas dan paling efektif, barulah pemasar menggunakan materi tersebut untuk di-boosting lebih luas lagi.

 

Fitur Together Mode pada Microsoft Teams Bantu Rapat Makin Fokus

Semakin maraknya hybrid working yang diterapkan oleh banyak perusahaan berimbas kepada semakin banyaknya penggunaan konferensi video untuk melakukan rapat perusahaan. Hal ini terpaksa dilakukan oleh banyak perusahaan untuk tetap menjaga protokol kesehatan agar bisa memutus rantai virus Covid-19. Dalam hybrid working ini orang-orang melakukan pekerjaannya secara bergilir. Ada yang bekerja di kantor, ada yang bekerja di rumah. Dan ada juga yang bekerja di workspace untuk menjaga kenyamanan saat melakukan pekerjaan meskipun sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Dalam keadaan seperti ini, rapat terpaksa harus dijalani dalam keadaan hybrid meeting.

Kesulitan yang biasa dialami oleh orang-orang dalam melakukan hybrid meeting adalah menjaga diri untuk tetap fokus. Fokus terbagi bukan karena seseorang sibuk dengan kegiatan lainnya saat rapat. Hal yang membuat seseorang sulit fokus saat rapat adalah tampilan pengguna yang kurang efisien dan kurang teratur. Biasanya, aplikasi pengadaan konferensi video memiliki tampilan pengguna yang monoton. Setiap orang hanya berada di satu bingkai kecil tanpa tampilan yang menarik. Selain itu, apabila rapat dilakukan oleh banyak orang, maka bingkai-bingkai tersebut akan terbagi ke dalam satu halaman yang lain. Jadi, bila harus mendengar seseorang yang berada di halaman lain, maka perlu menggesernya untuk menemukan orang tersebut. Apabila rapat dilaksanakan tanpa menyalakan kamera, kesulitan yang biasanya dialami oleh pengguna adalah tidak mengetahui siapa yang berbicara karena suara di dalam video konferensi tidak terlalu jernih. Dengan begitu orang-orang akan kesulitan menjaga fokusnya.

Permasalah ini sepertinya tidak luput dari perhatian Microsoft Teams. Mengetahui orang-orang kesulitan fokus saat hybrid meeting, Microsoft Teams langsung meluncurkan fitur unik dan menarik yang akan membantu orang-orang akan menjaga fokusnya. Fitur tersebut adalah Together Mode. Pada mode ini orang-orang tidak lagi berada oada sekat-sekat bingkai. Semua orang akan seperti berada pada suatu ruangan yang menyerupai ruangan rapat tanpa adanya sekat pemisah. Masing-masing akan duduk pada bangku yang disediakan. Semua berada pada satu bingkai yang besar sehingga fokus pendengar akan selalu terjaga karena akan selalu memperhatikan wajah pembicara dan juga gesturnya tanpa harus repot-repot mencari halaman si pembicara. Fitur ini juga membantu apabila pembicara atau pendengar menggunakan bahasa isyarat atau non-verbal.

Selain fitur Together Mode, Microsoft Teams juga memiliki fitur-fitur lain yang tentunya akan sangat membantu dan membuat pengalaman pengguna menjadi lebih menyenangkan. Fitur lainnya yang dimaksud adalah tampilan dinamis yang baru. Dengan fitur ini pengguna bisa berbagi konten berdampingan dengan orang lain dalam panggilan video. Lalu ada juga fitur reaksi langsung dengan emoji dan juga filter video, transkrip langsung, gelembung obrolan, dan juga balasan otomatis. Fitur-fitur tersebut tentunya akan sangat membantu ketika rapat sedang berjalan.

Untuk memanfaatkan seluruh fitur tersebut, Anda dapat berlangganan Microsoft 365 dengan menghubungi Solusi melalui tombol berikut atau nomor 021-7201419.

Pelaku UMKM Harus Berkolaborasi Demi Dongkrak Penjualan di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 memang memberikan imbas yang tidak main-main. Banyak perusahaan yang jatuh bahkan sampai bangkrut. Tidak terkecuali dengan usaha small medium business atau yang biasa disebut dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Meskipun tidak memiliki modal yang besar, UMKM juga memiliki omzet yang sangat kecil. Keterbatasan di masa pandemi membuat pengusaha UMKM tidak berani berinovasi lebih jauh. Namun, bagaimana pun usaha harus tetap berjalan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dari 34 ribu pengusaha bisnis kuliner, sekitar 84 persennya mengalami penurunan pendapatan di masa pandemi ini. Catherine Halim, Co-founder dan Marketing Director dari Kisaku mengatakan bahwa penurunan ekonomi ini dinyatakan lebih buruk dari krisis ekonomi pada tahun 1930 oleh International Monetary Fund (IMF). Pada saat itu krisis ekonomi mendapat sebutan The Great Depression. Hal itu berarti krisis ekonomi yang terjadi saat ini benar-benar sangat parah.

Untuk mengatasi hal itu, tentunya usaha UMKM bisa melakukan hybrid channel, yaitu hidup dalam pasar offline (luring) dan juga pasar online (daring). Penggunaan channel online ini bisa sangat menguntungkan mengingat di masa pandemi ini masyarakat lebih aktif berbelanja melalui daring. 

Namun, pasar UMKM tentu tidak sebesar pasar milik perusahaan-perusahaan besar. Jangkauan pasar UMKM sangat terbatas, mungkin hanya sebatas toko luringnya yang sebelumnya sudah berdiri. Hal itu akan menjadi penghambat UMKM untuk bisa berkembang sehingga pendapatan yang didapat tidak setinggi yang diperkirakan. Melakukan branding secara daring pun membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal yang tidak bisa begitu saja dilakukan oleh UMKM. Meskipun begitu ada jalan lain yang sekiranya bisa membantu UMKM untuk bisa berkembang pesat, yaitu melalui program kolaborasi antar-UMKM.

Kolaborasi yang dilakukan satu pengusaha UMKM dengan pengusaha UMKM lain akan membuat pangsa pasar menjadi lebih luas. Jika sebelumnya satu usaha UMKM hanya memiliki segelintir konsumen, dengan adanya kolaborasi dengan usaha UMKM yang lain, maka konsumen yang tadinya tak tersentuh jadi bisa digapai. Apalagi proses kolaborasi ini dijalankan secara hybrid channel. Pasar yang bisa digapai tentunya menjadi lebih luas lagi. Meskipun masih belum bisa menyaingi pasar yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar.

Program kolaborasi ini tentunya tidak hanya menyatukan dua produk atau lebih menjadi satu begitu saja. Manajemennya pun harus sangat kuat. Meskipun awalnya berdiri atas nama masing-masing, tetapi ketika sudah melakukan kolaborasi, maka harus bisa membangun manajemen yang saling bersinergi. Untuk menjaga komunikasi menjadi lebih baik, perlu adanya fasilitas yang membuat beberapa pihak untuk terus terhubung karena adanya protokol kesehatan yang harus dipatuhi selama pandemi sehingga kendala jarak ini bisa teratasi. Misal saja Microsoft Teams yang memiliki banyak fitur di dalamnya.

Microsoft Teams sendiri juga sudah siap untuk membantu UMKM yang terdampak dengan merilis Teams Essentials. Microsoft Teams Essentials ini memang ditujukan untuk pelaku usaha UMKM agar terus berkembang di masa pandemi ini. Hanya dengan Rp 62.600, pelaku usaha UMKM bisa menikmati fitur-fitur terbaik yang disuguhkan Microsoft Teams untuk menjaga kolaborasi UMKM tetap terjaga. Misalnya rapat grup tak terbatas hingga 30 jam yang bisa digunakan untuk rapat dengan pelaku UMKM yang sedang berkolaborasi karena adanya kendala jarak sehingga pertemuan harus dilakukan secara daring. Pengguna juga mendapatkan servis penyimpanan cloud sebesar 10 GB untuk menyimpan data-data yang diperlukan dan juga dukungan telepon dan web di setiap saat.

Microsoft Teams Upgrade Kapasitas Menjadi 250 Peserta

Sejak pandemi Covid-19 melanda, banyak perusahaan harus memutar otak untuk menangani masalah yang terjadi. Dampak dari pandemi ini tidak main-main. Beberapa perusahaan besar sudah mulai tumbang sampai menutup usaha bisnisnya. Perusahaan mencoba mencari jalan keluar agar kegiatan bisnis terus berjalan dan menjaga stabilitas perusahaan dengan tetap menjalankan prosedur kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, salah satunya adalah menjaga jarak. Solusi yang kemudian dipilih adalah hybrid working.

Bagi beberapa perusahaan, hybrid working dianggap efisien untuk menjaga stabilitas perusahaan. Hybrid Working sendiri memiliki artian bekerja secara kombinasi antara bekerja di kantor (WFO), bekerja di rumah (WFH), maupun bekerja di mana saja (WFA). Dengan begini, perusahaan tetap menjalankan prosedur kesehatan dan menjaga pekerjanya dari virus Covid-19. 

Hybrid Working dinilai menjadi metode yang paling cocok untuk digunakan pada masa pandemi seperti saat ini. Meskipun metode ini memiliki beberapa kekurangan, tapi kekurangan tersebut masih bisa diatasi dengan bantuan teknologi. Salah satu hal yang dirasakan sebagai kekurangan dalam metode hybrid working adalah melakukan rapat.

Pada kondisi normal, semua pekerja akan melakukan rapat secara tatap muka di dalam satu ruangan. Hal ini akan membuat penyampaian materi menjadi lebih jelas dan tepat. Namun, sejak pandemi dimulai, keadaan seperti itu sudah tidak bisa lagi dilaksanakan. Dengan mengusup metode hybrid working, maka jalan keluar sebagai pengganti rapat tatap muka adalah hybrid meeting

Konsep hybrid meeting sama seperti konsep hybrid working, yaitu pekerja melakukan rapat secara kombinasi antara WFO, WFH, dan WFA. Perangkat pendukung hybrid meeting ini tentu saja aplikasi konferensi video, seperti Microsoft Teams.

Microsoft Teams sebelumnya memang banyak digunakan oleh banyak perusahaan. Namun, semenjak pandemi, penggunaan Microsoft Teams oleh perusahaan lebih meningkat. Microsoft Teams sejak lama memang memiliki fitur konferensi video yang digunakan untuk melakukan rapat. Saat ini fitur tersebut menjadi lebih laku karena adanya metode hybrid meeting ini. 

Sayang, Microsoft Teams memiliki keterbatasan dalam kapasitas peserta. Microsoft Teams hanya mampu menampung 100 peserta dalam konferensi videonya. Namun, Microsoft Teams melihat adanya kebutuhan yang sangat meningkat sehingga mulai memberikan pembaruan pada fitur konferensi video miliknya yang sebelumnya hanya bisa diikuti 100 peserta dan sekarang menjadi 250 peserta. Bagi perusahaan-perusahaan besar, pembaruan ini tentu sangat membantu mengingat peserta rapat mereka memang tidak pernah sedikit. 

Selain konferensi video, Microsoft Teams juga memiliki fitur-fitur lain yang berguna bagi perusahaan, misalnya ruang obrolan, komunikasi dengan tim kecil atau tim besar, hingga kolaborasi langsung dengan aplikasi Office (Word, PowerPoint, Excel, Outlook).

Untuk memanfaatkan seluruh fitur tersebut, Anda dapat berlangganan Microsoft 365 dengan menghubungi Solusi melalui tautan berikut atau nomor 021-7201419.

Pindah ke Daring Bikin Untung Naik 46%, UMKM Perlu Bertindak

Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat untuk hidup dalam segala keterbatasan. Masyarakat sebisa mungkin harus membuat sekat dengan banyak orang demi memutus rantai virus yang sudah lama menyebar. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tentunya perlu melakukan inovasi demi bisa bertahan hidup. 

Untungnya, saat ini era digital sudah semakin pesat berkembang. Teknologi dapat memudahkan kegiatan manusia sehingga batas-batas yang dibuat masih bisa dilompati. Begitu juga dalam dunia bisnis, terutama bagi small medium business (SMB) atau bisa disebut juga sebagai sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

UMKM tidak seperti perusahaan-perusahaan besar yang memiliki untung yang besar. UMKM setidaknya hanya mendapat beberapa miliar sebagai omzet. Pendapatan yang tidak besar ini disebabkan UMKM cenderung melakukan bisnis secara konvensional. Padahal di dunia yang sudah serbacepat ini, segalanya sudah menjadi serbadigital. Untuk itu, penting bagi UMKM untuk bisa menjangkau pasar daring meskipun tidak semua UMKM bisa masuk ke pasar daring.

Menurut Chief Marketing Officer KoinWorks Jonathan Bryan, transaksi daring karena pandemi menjadi naik karena kebutuhan masyarakat kebanyakan dibeli secara daring sehingga keuntungan bisnis naik hingga 46%. Hal itu menunjukkan bahwa bisnis melalui jalur daring lebih efektif dari bisnis secara luring. Selain karena pandemi, digitalisasi juga bisa membuat bisnis dijangkau lebih banyak pembeli. Bisnis luring akan sulit mendapatkan pembeli dalam skala besar, terutama bagi UMKM.

Bisnis tentunya akan lebih efisien jika melakukan hybrid channel, yaitu melakukan bisnis secara luring dan daring. Namun, biaya dalam melakukan bisnis daring tentunya juga tidak kecil. Selain membuka pasar secara daring, segala peralatan pendukung juga harus bersifat daring untuk menjangkau klien seperti melakukan rapat dengan klien atau bahkan melakukan kolaborasi dengan mitra bisnis.

Demi meningkatkan produktivitas UMKM yang memiliki keterbatasan dana, Microsoft Teams memiliki jalan keluar yang bisa digunakan oleh pelaku UMKM yang ingin mulai beranjak menuju pasar daring. Microsoft Teams mengeluarkan Teams Essentials demi membantu kelangsungan bisnis UMKM. 

Dari Microsoft Teams Essentials itu, pelaku UMKM bisa mendapatkan berbagai macam fitur yang akan membantu pelaku UMKM dalam melakukan bisnis secara daring. Misalnya untuk rapat dengan klien, untuk menyimpan data-data ke dalam cloud, atau templat chat untuk bisnis kecil. Pelanggan juga bisa menggunakan beragam seperti fitur integrasi dengan Outlook Calendar, fitur penggantian latar belakang video, dan juga live closed captions.

Seperti yang telah disebutkan bahwa Teams Essentials ini memang ditujukan untuk pelaku UMKM karena harga yang perlu dikeluarkan untuk berlangganan hanya sebesar Rp 62.600. Dengan harga tersebut, pelaku UMKM tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi untuk masuk ke bisnis daring.